Pengertian Segitiga Exposure dalam Fotografi [Aperture, Shutterspeed dan ISO]

Segitiga Exposure dalam Fotografi?

Segitiga Exposure dalam fotografi atau biasa dikenal dengan Exposure Triangle, yaitu adalah 3 hal yang menentukan Exposure atau paparan cahaya yang masuk ke kamera kita. Nah 3 hal itu adalah:

  1. Aperture
  2. Shutter Speed
  3. ISO

Tujuan dari memahami Segitiga Exposure ini adalah untuk mencari keseimbagan exposure yang pas sesuai momen yang ingin kita potret.

Di zaman sosial media yang semakin pesat, banyak orang yang butuh untuk mengambil foto yang unik dan bisa menarik perhatian orang. Entah itu untuk keperluan jualan atau sekedar mencari likes ?.

Penting setidaknya kita untuk mengetahui ilmu dasar-dasar atau basics dari apa saja yang dapat mempengaruhi kualitas foto yang kita ambil. Apapun perangkat yang kamu pakai, baik itu smartphone, pocket camera atau DSLR, ilmu dasar ini wajib kamu ketahui.


Langsung aja yuk kita belajar bersama apa saja apa saja 3 hal dalam segitiga exposure itu

1. Aperture:

Aperture biasanya dilambangkan dengan diawali huruf F disebut juga sebagai F-Stop, seperti contohnya f/1.8

Aperture ini fungsinya untuk mengatur seberapa banyak cahaya yang masuk ke sensor kemera kita. Semakin kecil angkanya semakin besar bukaan lensanya maka semakin banyak cahaya yang masuk. Semakin besar angkanya semakin kecil bukaan lensanya dan sedikit cahaya yang masuk.

Bingung? Hehe, intinya sih semakin kecil angkanya semakin terang, dan semakin besar angkanya jadi lebih gelap ?

Tidak hanya itu, aperture juga menentukan seberapa nge-blur, depth of field (DOF) atau biasa juga disebut bokeh hasil cepretan kita. Biasanya terlihat untuk mengambil foto close-up atau macro, kalau landscape yang tak ada foreground-nya tidak terlalu berpengaruh.


2. Shutter speed:

Shutter speed atau kecepatan rana merupakan lama waktu sensor kamera membuka dan menerima cahaya.

Biasa disimbol dengan seperti 1/4000 sec, yang berarti cahaya masuk ke sensor satu per 4000 detik.

Semakin cepat maka objek akan nge-freeze tapi sedikit cahaya yang masuk. Ini biasanya dipakai untuk foto objek yang bergerak dengan cepat, seperti memotret orang main bola atau hewan yang bergerak.

Sebaliknya, semakin lama sensor terbuka maka objek akan nge-blur dan cahaya pun yang masuk lebih banyak. Biasanya digunakan saat ingin motret air terjun, sungai atau laut supaya air tampak lebih soft, juga digunakan untuk motret Bima Sakti di malam hari.

Untuk memotret dengan Shutter speed yang lama atau disebut juga Long Exposure, untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka dibutuhkan aksesoris tambahan berupa Tripod. Digunakan untuk meminimalisir gerakan yang bisa mengakibatkan keseluruhan foto menjadi nge-blur.

Sebenarnya bisa juga tanpa Tripod, yaitu dengan tangan yang stabil atau memanfaatkan alat yang ada disekitar untuk menyangga.


3. ISO:

Nah yang terakhir yaitu ISO. ISO merupakan pengaturan sensifitas sensor dalam menerima cahaya.

ISO ini sendiri merupakan singkatan dari International Organization for Standardization yang makna tak ada hubungannya dengan fotografi, mungkin ini merupakan standar internasional pengaturan kecerahan sensor kamera kali ya #CMIIW

Semakin kecil ISO, semakin gelap, dan less noisy atau sedikit noise pada gambar. Semakin besar ISO, semakin terang, tapi sebaliknya more noisy atau semakin banyak noise pada hasil akhir gambar.

Jadi untuk ISO ini kamu harus sebisa mungkin menimalisirnya untuk mengatasi noise pada gambar yang sangat merusak kualitas gambar, entah itu dengan Shutter Speed yang lebih lama atau Aperture yang semakin lebar (semakin kecil F-stopnya).

Tidak semua kamera menghasilnya noise yang sama banyaknya, ada yang ISO 3200 saja sudah banyak noisenya, ada juga yang sampai ISO 12800 tapi hasil masih minim dengan noise. Itu semua kembali dengan kualitas kamera yang dipakai.

Leave a Reply